Suriah: Deir Ezzour Butuh Anggaran Pembangunan Besar

Wilayah Deir Ezzour kembali menjadi sorotan setelah kondisi lapangan menunjukkan gambaran kontras antara kekayaan sumber daya dan kemunduran kehidupan sipil. Provinsi strategis di timur Suriah ini seperti terbelah bukan hanya oleh Sungai Eufrat, tetapi juga oleh perbedaan tata kelola dan orientasi kekuasaan.

Secara geografis dan politik, Deir Ezzour terbagi dua. Bagian timur Eufrat berada di bawah kendali SDF, sementara bagian barat tetap dikuasai pemerintah Suriah. Pembelahan ini menciptakan realitas yang timpang dalam pelayanan publik dan pembangunan.

Di wilayah timur, SDF menjalankan administrasi melalui dewan eksekutif lokal. Secara formal, struktur ini disebut sebagai pemerintahan sipil, namun dalam praktiknya kewenangan dan anggaran yang dimiliki sangat terbatas.

Ironisnya, Deir Ezzour Timur justru dikenal sebagai salah satu wilayah terkaya sumber daya minyak dan gas di Suriah. Namun kekayaan alam itu tidak tercermin dalam kualitas hidup masyarakat setempat.

Alokasi anggaran bagi sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dinilai jauh dari memadai. Banyak warga mempertanyakan ke mana mengalirnya hasil migas, karena kondisi permukiman dan layanan dasar terus memburuk.

Sekolah-sekolah di sejumlah wilayah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bangunan pendidikan rusak, sebagian tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, dan tingkat putus sekolah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Dampak jangka panjangnya mulai terasa dalam bentuk meningkatnya angka buta huruf, terutama di pedesaan. Generasi muda Deir Ezzour kehilangan akses pendidikan yang layak di tengah konflik dan kelalaian administrasi.

Kondisi fasilitas air bersih juga memprihatinkan. Stasiun pompa air tidak beroperasi optimal, menyebabkan banyak desa bergantung pada sumber air tidak layak konsumsi atau pasokan yang tidak stabil.

Sektor pangan mengalami nasib serupa. Pusat-pusat produksi roti dan distribusi bahan pokok tidak berfungsi dengan baik, memicu kelangkaan dan kenaikan harga di pasar lokal.

Pelayanan publik praktis lumpuh. Banyak kantor pemerintahan lokal, unit penyuluhan, dan fasilitas administrasi berada dalam kondisi rusak atau terbengkalai tanpa aktivitas berarti.

Situasi ini semakin memperlihatkan lemahnya prioritas pembangunan di Deir Ezzour dalam struktur SDF dan AANES. Fokus utama pembangunan terlihat terpusat di Hasakah dan Qamishli.

Raqqa dan Deir Ezzour dipersepsikan hanya sebagai wilayah penyangga ekonomi dan keamanan. Di mata banyak warga, kedua wilayah ini diperlakukan layaknya daerah jajahan yang dieksploitasi, bukan dibangun.

Kekecewaan tersebut tumbuh seiring memburuknya kondisi infrastruktur. Jalan-jalan rusak parah, tidak terawat, dan menyulitkan pergerakan warga maupun distribusi barang.

Masalah sanitasi menjadi krisis tersendiri. Tidak adanya sistem pembuangan limbah yang memadai menyebabkan air kotor mengalir di jalanan dan di antara rumah-rumah warga.

Lingkungan yang tidak sehat ini meningkatkan risiko penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia. Namun respons institusional hampir tidak terlihat selama bertahun-tahun.

Ketika aparat pemerintah Suriah mulai kembali masuk ke sejumlah area, mereka menghadapi tantangan besar. Banyak gedung yang seharusnya dapat digunakan sebagai kantor keamanan atau layanan publik sudah tidak layak pakai.

Ketiadaan infrastruktur dasar memperlambat proses pemulihan. Aparat harus memulai hampir dari nol untuk membangun kembali sistem administrasi dan keamanan.

Kondisi Deir Ezzour menjadi cermin kegagalan model pengelolaan wilayah yang tidak berbasis pemerataan. Kekayaan alam tanpa tata kelola yang adil justru melahirkan kemiskinan struktural.

Dualisme kekuasaan yang sempat terjadi antara timur dan barat Eufrat memperdalam jurang ketimpangan. Warga menjadi korban dari konflik politik yang berkepanjangan.

Banyak pengamat menilai bahwa stabilitas Deir Ezzour tidak akan tercapai tanpa perubahan mendasar dalam pendekatan pembangunan. Wilayah ini membutuhkan investasi nyata, bukan sekadar eksploitasi sumber daya.

Deir Ezzour hari ini bukan sekadar wilayah pascakonflik, melainkan simbol dari bagaimana perang, fragmentasi, dan politik pusat-pinggiran meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat yang hidup di atas tanah yang kaya, namun terabaikan.

Share on Google Plus

About marbun

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar