Tantangan Integrasi Pasukan Suriah

Perdamaian antara pemerintah Suriah dan Syrian Democratic Forces (SDF) membawa konsekuensi besar yang jarang dibicarakan secara terbuka, yakni persoalan ekonomi ribuan anggota bersenjata yang selama bertahun-tahun berada di bawah struktur SDF.

Dengan dibubarkannya SDF dan rencana integrasi ke dalam Tentara Arab Suriah, muncul kekhawatiran luas bahwa para kombatan akan mengalami penurunan gaji secara drastis.

Selama ini, banyak warga Suriah yang bergabung dengan SDF menerima gaji sekitar 350 hingga 400 dolar AS per bulan, angka yang tergolong tinggi di tengah krisis ekonomi Suriah.

Gaji tersebut dimungkinkan karena SDF beroperasi di bawah struktur AANES yang memiliki sumber pendanaan besar dari minyak, gas, serta dukungan koalisi internasional.

Sebaliknya, gaji tentara reguler Suriah dikenal sangat rendah, bahkan jauh di bawah standar kawasan Timur Tengah.

Prajurit Tentara Arab Suriah umumnya hanya menerima gaji setara puluhan dolar per bulan, sementara perwira tingkat rendah dan menengah memperoleh pendapatan yang tetap terbatas.

Perbandingan ini menempatkan mantan anggota SDF pada dilema serius, karena integrasi berarti penurunan pendapatan hingga lebih dari 70 persen.

Dalam teks perjanjian Damaskus–SDF, memang disebutkan bahwa anggota SDF akan diberikan hak finansial sesuai hukum negara Suriah.

Namun, tidak ada satu pun pasal yang menjamin kesinambungan gaji lama atau kompensasi setara dengan pendapatan mereka sebelumnya.

Pengalaman integrasi kelompok bersenjata lain ke dalam tentara Suriah menunjukkan bahwa negara cenderung menyeragamkan gaji sesuai standar nasional.

Pemerintah Suriah dinilai sulit mempertahankan gaji setinggi 400 dolar per bulan untuk satu kelompok tertentu tanpa memicu kecemburuan dan gejolak di tubuh militernya sendiri.

Jika standar itu diterapkan, tentara reguler yang telah bertahun-tahun bertugas dipastikan akan menuntut perlakuan serupa.

Inilah yang menjelaskan mengapa isu gaji menjadi salah satu sumber kegelisahan terbesar di kalangan anggota SDF, bahkan lebih sensitif daripada isu pangkat atau jabatan.

Di wilayah timur Suriah, sejumlah mantan kombatan menyebut kekhawatiran ekonomi sebagai alasan utama penundaan integrasi penuh.

Bagi mereka, penurunan gaji bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut kemampuan memberi makan keluarga di tengah inflasi yang tinggi.

Pemerintah Suriah sendiri berada dalam posisi dilematis antara kebutuhan menjaga stabilitas sosial dan keterbatasan anggaran negara.

Sejumlah analis memprediksi adanya skema transisi, seperti tunjangan sementara atau penempatan di unit strategis dengan penghasilan sedikit lebih tinggi.

Namun, tetap diyakini bahwa skema apa pun tidak akan mendekati angka yang selama ini diterima anggota SDF.

Kondisi ini memunculkan risiko baru dalam proses perdamaian, yakni potensi kekecewaan dan resistensi diam-diam dari mereka yang merasa kehilangan secara ekonomi.

Perdamaian Damaskus dan SDF mungkin mengakhiri konflik bersenjata, tetapi bagi ribuan prajurit, ia juga menandai awal kehidupan baru dengan penghasilan yang jauh lebih sempit.

Ketika Akhirnya Berdamai

Perdamaian antara pemerintah Suriah dan Syrian Democratic Forces (SDF) akhirnya menjadi kenyataan, namun bagi banyak warga di timur Suriah, khususnya komunitas suku Arab, kabar ini justru memunculkan rasa pahit dan kebingungan.

Pertanyaan yang paling sering terdengar adalah untuk apa semua gertakan, operasi keamanan, dan eskalasi bersenjata terjadi jika pada akhirnya Damaskus dan SDF duduk di meja yang sama.

Sejak Desember lalu, puluhan orang dilaporkan tewas dalam rangkaian bentrokan, operasi penertiban, dan aksi kekerasan di wilayah seperti Raqqa, Deir Ezzour, dan sekitarnya.

Di antara korban tersebut terdapat anggota suku Arab yang dilaporkan tewas ditembak sniper saat konflik lokal antara warga dan elemen SDF berlangsung.

Yang paling mengundang kemarahan publik adalah laporan eksekusi tahanan di penjara Tabqa, yang dituding dilakukan oleh oknum SDF di tengah situasi tegang dan belum jelas arah politiknya.

Bagi keluarga korban, perdamaian yang datang setelah peristiwa tersebut terasa seperti keputusan elitis yang tidak memperhitungkan darah yang sudah tertumpah.

Banyak warga bertanya, jika jalur damai memang sudah dipertimbangkan sejak awal, mengapa eskalasi dibiarkan berjalan hingga memakan korban sipil.

Di tingkat akar rumput, anggota suku Arab merasa dimanfaatkan sebagai alat tekanan, baik dalam konflik lokal melawan SDF maupun dalam pesan politik ke Damaskus.

Sejumlah tokoh suku mengakui bahwa sebagian anak muda terlibat dalam aksi “pembersihan” terhadap elemen SDF karena diyakinkan bahwa konfrontasi adalah satu-satunya jalan.

Kini, setelah perdamaian diumumkan, muncul penyesalan mendalam, karena jika tahu akhirnya akan berdamai, banyak yang mengaku tidak akan mengambil risiko sebesar itu.

Rasa dikhianati ini diperparah oleh tidak adanya penjelasan terbuka mengenai nasib para korban setelah kesepakatan ditandatangani.

Hingga kini, belum ada kejelasan apakah kasus-kasus penembakan sniper dan eksekusi di penjara Tabqa akan diusut atau sekadar ditelan narasi rekonsiliasi.

Pemerintah Suriah sendiri berada dalam posisi sulit antara kebutuhan stabilitas politik dan tuntutan keadilan dari masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya.

Di sisi lain, SDF menghadapi krisis kepercayaan dari komunitas lokal yang merasa menanggung beban konflik paling besar.

Perdamaian tanpa proses akuntabilitas dinilai berisiko menciptakan luka sosial yang lebih dalam, meski senjata telah diletakkan.

Para analis menilai bahwa konflik sebelumnya bukan semata salah paham, melainkan bagian dari strategi saling tekan menjelang negosiasi.

Dalam logika politik konflik, gertakan bersenjata kerap digunakan untuk memperkuat posisi tawar, meski konsekuensinya ditanggung warga biasa.

Namun bagi masyarakat suku yang kehilangan nyawa dan keamanan, logika ini sulit diterima secara moral.

Mereka kini menuntut agar perdamaian tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi disertai pengungkapan kebenaran dan pertanggungjawaban.

Tanpa itu, damai antara Damaskus dan SDF mungkin tercapai di tingkat elite, namun luka di tingkat rakyat bisa menjadi bom waktu bagi stabilitas Suriah ke depan.



Share on Google Plus

About marbun

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar